Islam Itu Seperti "MISUSE"

ISLAM ITU SEPERTI "MISUSE"
Oleh: Kyai Kamil Abdullah
13 Desember 2014

Suatu kali saya kedatangan tamu. Sang tamu sudah berusia paruh baya. Berperawakan kurus, bertubuh pendek, kulit coklat legam, dan di wajahnya tampak jelas garis-garis pertanda kerasnya ujian hidup yang tak henti mendera.

Mulyawan namanya. Berpenampilan sangat bersahaja. Dalam hati, saya merasa bahwa orang ini wajib mendapat penghormatan karena ia memiliki sesuatu yang amat berharga: kerendahan hati dan ketulusan jiwa…

"Saya ini orang bodoh, Ustadz… Hanya putus sekolah kelas 2 Sekolah Dasar…" katanya dengan nada datar.

"Di awal-awal mengikuti Kajian Islam panjenengan, saya ini tidak mengerti apa-apa tentang demokrasi, sekularisme, kapitalisme, dan istilah-istilah asing lainnya…"

Ia terdiam. Ada yang tersekat di tenggorokannya…

"Saya sangat berterima kasih telah diberi kesempatan bergabung dalam forum Kajian Islam, tetapi…"

Lagi-lagi kalimatnya terpotong. Perkataannya terganjal.
Usut punya usut, ternyata inti kedatangannya adalah untuk menyampaikan curahan hatinya:

"Setiap kali saya mengikuti Kajian Islam yang Ustadz bina, saya selalu merasa 'tidak pantas' duduk diantara para Asatidz dan para Kyai di sana…"

Mendengar hal itu saya pun segera menimpalinya:

"Ustadz Mulyawan…"
(Saya memanggilnya Ustadz sebagai penghormatan saya kepadanya).

"Panjenengan tidak usah merasa 'rendah diri' duduk bersama para Asatidz dan Kyai… Karena kehadiran panjenengan di forum itu memang dikehendaki oleh Kyai Guru, orang yang paling berpengaruh di sini…"

Ia kelihatan kaget sebentar, tapi raut mukanya segera berbinar:

"Jadi ini atas perintah Kyai Guru? Alhamdulillah, saya lega sekarang, Ustadz…"

Saya tersenyum mendengar penuturannya yang lugu dan apa adanya…

"Oya, saya dengar Antum sering berada di Pesantren Kyai Sepuh, ya…?" tanya saya mengalihkan tema pembicaraan. Kyai Sepuh adalah ayahanda Kyai Guru.

"Betul Ustadz, saya sering diminta untuk memperbaiki bagian-bagian bangunan Pesantren yang mengalami kerusakan. Sudah sejak Almarhum Kyai Sepuh masih ada dulu sampai sekarang… Saya ini tukang kayu, Ustadz…"

Saya manggut-manggut, sambil pikiran melayang ke Kyai Sepuh, hingga mendorong saya untuk bertanya lebih jauh:

"Oya, apa pengalaman Antum yang paling berkesan bersama Kyai Sepuh…?"

"Labbaik Ustadz… Dulu pertama kali saya dipanggil oleh Kyai Sepuh, saya ditanya apakah pernah sekolah? Lalu saya jawab: 'Pernah Kyai, tetapi hanya sampai kelas 2 SD…' Kemudian saya ditawari nyantri oleh Kyai. Ya saya senang sekali…"

"Jadi sejak itu Ustadz Mulyawan nyantri ke Kyai Sepuh…?"

"Labbaik Ustadz…"

"Apa salah satu wejangan Kyai Sepuh yang masih Antum ingat…?"

"Diantaranya tentang 'Islam Rahmatan Lil'aalamiin', Ustadz…"

"Waah… Menarik ini… Coba, tolong ceritakan, saya ingin sekali mendengar…" pinta saya. Dalam hati memang ingin ikut mencicipi berguru ke Kyai Sepuh melalui Ustadz Mulyawan…

"Labbaik Ustadz… Kyai Sepuh bilang ke saya: 'Yang dimaksud Islam Rahmatan Lil'aalamiin itu begini, Mul… Islam itu seperti MISUSE…"

Ha? Spontan saya 'interupsi':
"MISUSE…? Apa itu MISUSE…?"

Ustadz Mulyawan tertawa terkekeh:
"Pertanyaan panjenengan itu persis dengan yang saya tanyakan kepada Kyai Sepuh dulu, Ustadz…"

Gantian saya yang terkekeh…
Ustadz Mulyawan melanjutkan ceritanya:

"Kyai Sepuh menjelaskan: 'Mul… Islam itu seperti MISUSE, artinya (MI)numan (SU)su (SE)hat… Cocok untuk anak-anak, remaja maupun orang-orang tua… Menyehatkan bagi orang Islam maupun orang kafir, karena dibutuhkan oleh semua orang di segala usia… Itulah Islam Rahmatan Lil'aalamiin… Syariat Islam itu bukan hanya untuk kepentingan kaum Muslimin saja, tetapi demi kebaikan seluruh umat manusia…"

Subhaanallaah… Saya terpana… Sementara Ustadz Mulyawan masih terus bercerita:

"Kyai Sepuh menambahkan juga: 'Jadi, Mul… Kalau ada orang menolak Syariat Islam, maka dia itu ibarat menolak MInuman SUsu SEhat… Pasti ada yang 'tidak beres' dalam dirinya…"

Begitulah, Ustadz jebolan kelas 2 SD menguraikannya dengan kata-kata sederhana, tetapi begitu 'dahsyat' di telinga dan relung hati saya…!

Tak terasa, waktu sudah hampir menjelang Maghrib. Ustadz Mulyawan berpamitan. Saat bersalaman dia mencium tangan saya. Saya mau balas mencium tangannya, tetapi dengan sigap ia menariknya… OK, soal 'cium tangan' saya 'kecolongan'… Tetapi dengan tulus saya masih sempat mengatakan kepadanya:

"Ustadz Mulyawan, alhamdulillah, sore ini Allah telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berguru kepada tamu saya… Jazaakumullaahu khairan atas ilmu 'MISUSE'nya…" [k@]
-----------------
<kamil@bdullah>
Sumber:
https://www.facebook.com/kamil.abdullah.3/posts/4952473747507