PAK EBO
Oleh: Kyai Kamil Abdullah
15 Desember 2014
Pak Ebo adalah orang 'dekat' Kyai Muri. Hampir tiap kali Kyai Muri ada keperluan pergi, Pak Ebo-lah yang selalu mendampingi.
Pak Ebo memang pintar mengambil hati. Tutur katanya manis, murah senyum, pembawaannya santun, dan kepada orang lain tampak bersikap sangat menghargai…
Sedangkan Kyai Muri, disamping seorang muballigh dan Ulama, beliau juga 'mantan' politisi. Di era Soeharto beliau pernah menjadi anggota Parlemen secara berturut-turut 2 kali. Dan tentu saja dalam rentang waktu satu dasawarsa banyak 'pengalaman dan sepak terjang politik pragmatis' telah beliau jalani…
Alhamdulillah, setelah memahami problematika umat dan solusinya dalam perspektif Islam, Kyai Muri memiliki kesadaran baru, semangat baru dan komitmen baru…
"Ustadz, mohon bimbingannya… In syaa Allah saya sudah bertekad untuk menghabiskan sisa umur saya sebagai seorang pengemban da'wah… Semoga ini menjadi jalan 'pertaubatan' saya kepada Allah dari segala dosa…" kata Kyai Muri saat berkunjung ke 'gubuk' saya bersama Pak Ebo.
"Aamiin… Jadi Kyai sudah siap menjadi KADER da'wah…?"
"In syaa Allah siap, Ustadz…" jawab beliau mantap.
"Kalau begitu, mari kita samakan dulu persepsi kita… PERTAMA: yang namanya KADER –apalagi kader da'wah– syaratnya harus 'MILITAN'…"
"MILITAN itu apa Ustadz…?" Kyai Muri minta penjelasan.
"MILITAN itu me(MILI)ki kekuatan dan keterika(TAN). Maksudnya: kekuatan AQIDAH dan keterikatan pada SYARI'AH…"
Kyai Muri mengangguk-angguk tanda setuju. Saya melanjutkan:
"KEDUA: agar terbentuk 'KEKUATAN' dan 'KETERIKATAN' tersebut, maka harus ada PEMBINAAN INTENSIF, rutin seminggu sekali… Bagaimana, Kyai bersedia…?"
"Bersedia, Ustadz…"
"Alhamdulillah… KETIGA: ILMU harus disertai AMAL… Tidak cukup hanya mengikuti PEMBINAAN, tapi harus ditindaklanjuti dengan terjun ke masyarakat, menunaikan AMANAH DA'WAH yang dibebankan… Apakah Kyai merasa keberatan…?"
"Tidak Ustadz… In syaa Allah saya sudah bertekad bulat…"
"Alhamdulillah…" Saya raih tangan kanan Kyai Muri dan saya jabat erat dengan kedua tangan saya sambil berdoa:
"Semoga Allah menuntun kita melalui hidayah-Nya… Dan meneguhkan langkah kita dengan kesabaran dan keistiqamahan di jalan-Nya…"
"Aamiin…" kami berdua sama-sama mengamini…
"Oya… Pak Ebo…" saya sapa Pak Ebo yang sejak tadi hanya berdiam diri.
"Ya, Ustadz…?"
"Pak Ebo sendiri bagaimana komitmennya…?"
"Saya ikut apa kata Kyai Muri saja, Ustadz…"
"O, baik… Jadi untuk Pembinaan Intensif Angkatan ke 2, hari Sabtu lusa di Desa Bambusari, Pak Ebo bisa ikut…?"
"Bisa, Ustadz…"
*** *** ***
Sabtu siang saya kontak Kyai Muri untuk memastikan acara Pembinaan Intensif Angkatan ke 2 nanti malam bisa berjalan lancar…
"Kyai, nanti malam acara kita jadi…?"
"In syaa Allah jadi, Ustadz… Tempat sudah siap…"
"Total peserta berapa jumlahnya…?"
"10 orang dengan Pak Ebo, Ustadz…"
"Semua peserta sudah dikonfirmasi…?"
"Sudah Ustadz, semua bersedia hadir…"
"Termasuk Pak Ebo…?"
"Ya, Ustadz…"
Malamnya acara berlangsung lancar dan terbilang sukses. Dari 10 peserta, hanya 1 orang yang tidak hadir: … Pak Ebo… Tanpa keterangan yang jelas…
Esoknya ada kabar, bahwa Pak Ebo berhalangan hadir tadi malam, karena mendadak harus menolong seseorang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi…
Hari-hari berikutnya, Pak Ebo masih tetap setia mengantarkan Kyai Muri ke mana-mana dan sering pula menemui saya…
*** *** ***
Kegiatan da'wah di Kecamatan Mercusari terus bergulir. Minggu ini akan diselenggarakan Pembinaan Intensif Angkatan ke 3 di Desa Suci. Desanya Pak Ebo.
Seperti minggu lalu, Pak Ebo juga menyatakan siap hadir. Dan ternyata hal serupa terulang. Hanya 1 orang yang tidak kelihatan batang hidungnya: … Pak Ebo… Izin? Tidak…
Lagi-lagi, esoknya tersiar kabar, Pak Ebo tadi malam tidak bisa hadir karena harus mengantarkan keponakannya yang perempuan ke rumah familinya untuk urusan keluarga yang sangat penting…
*** *** ***
Da'wah terus berjalan. Soal 2 kali ketidakhadiran Pak Ebo hanya ibarat 'kerikil kecil' yang hancur tergilas oleh putaran roda-roda besar da'wah…
Bahkan kami semua terlupa. Acara Pembinaan Intensif berikutnya Angkatan ke 4 di Desa Kawung berlangsung, tanpa ada kontak samasekali dengan Pak Ebo. Ia seperti menghilang begitu saja. Dan 'anehnya', kami semua tak ada satupun yang merasa kehilangan dia…
Agenda minggu ini Pembinaan Intensif Angkatan ke 5 di desa Kebunsari…
Sejauh ini, dari 7 desa di Kecamatan Mercusari, alhamdulillah, sudah 5 desa yang melaksanakan Pembinaan Intensif: Desa Kawang, Desa Bambusari, Desa Suci, Desa Kawung dan Desa Kebunsari…
Akan halnya Pak Ebo, atas kehendak Allah, tersingkaplah satu per satu 'modus' dan 'aib' yang sekian lama ia tutupi:
(1) Kesetiaannya mendampingi Kyai Muri ternyata hanyalah 'modus' Pak Ebo agar 'aman' dari 'kecurigaan' sang istri…
(2) Alasan 'membantu' orang yang 'kesulitan ekonomi' merupakan 'modus' Pak Ebo untuk meraup keuntungan materi dengan menjadi makelar dalam 'mencarikan dan mencairkan' hutang 'ribawi'…
(3) Alasan 'mengantarkan' keponakan perempuannya menemui famili adalah 'modus' Pak Ebo untuk bisa pergi 'indehoy' bersama wanita selingkuhannya yang ia rahasiakan selama ini…!
Astaghfirullaahal'azhiim… Na'uudzu billaahi min dzaalik…
Untuk acara Pembinaan Intensif Angkatan ke 5 ini, Pak Ebo 'dipastikan' tidak hadir lagi… Dia benar-benar tidak bisa menghadiri… Dan mustahil datang walau dipaksa setengah mati… Karena dia… memang… sudah 'keburu'… MATI… [k@]
-----------------
<kamil@bdullah>
Sumber: https://www.facebook.com/kamil.abdullah.3/posts/4958928788879
Loading...
Islam Itu Seperti "MISUSE"
ISLAM ITU SEPERTI "MISUSE"
Oleh: Kyai Kamil Abdullah
13 Desember 2014
Suatu kali saya kedatangan tamu. Sang tamu sudah berusia paruh baya. Berperawakan kurus, bertubuh pendek, kulit coklat legam, dan di wajahnya tampak jelas garis-garis pertanda kerasnya ujian hidup yang tak henti mendera.
Mulyawan namanya. Berpenampilan sangat bersahaja. Dalam hati, saya merasa bahwa orang ini wajib mendapat penghormatan karena ia memiliki sesuatu yang amat berharga: kerendahan hati dan ketulusan jiwa…
"Saya ini orang bodoh, Ustadz… Hanya putus sekolah kelas 2 Sekolah Dasar…" katanya dengan nada datar.
"Di awal-awal mengikuti Kajian Islam panjenengan, saya ini tidak mengerti apa-apa tentang demokrasi, sekularisme, kapitalisme, dan istilah-istilah asing lainnya…"
Ia terdiam. Ada yang tersekat di tenggorokannya…
"Saya sangat berterima kasih telah diberi kesempatan bergabung dalam forum Kajian Islam, tetapi…"
Lagi-lagi kalimatnya terpotong. Perkataannya terganjal.
Usut punya usut, ternyata inti kedatangannya adalah untuk menyampaikan curahan hatinya:
"Setiap kali saya mengikuti Kajian Islam yang Ustadz bina, saya selalu merasa 'tidak pantas' duduk diantara para Asatidz dan para Kyai di sana…"
Mendengar hal itu saya pun segera menimpalinya:
"Ustadz Mulyawan…"
(Saya memanggilnya Ustadz sebagai penghormatan saya kepadanya).
"Panjenengan tidak usah merasa 'rendah diri' duduk bersama para Asatidz dan Kyai… Karena kehadiran panjenengan di forum itu memang dikehendaki oleh Kyai Guru, orang yang paling berpengaruh di sini…"
Ia kelihatan kaget sebentar, tapi raut mukanya segera berbinar:
"Jadi ini atas perintah Kyai Guru? Alhamdulillah, saya lega sekarang, Ustadz…"
Saya tersenyum mendengar penuturannya yang lugu dan apa adanya…
"Oya, saya dengar Antum sering berada di Pesantren Kyai Sepuh, ya…?" tanya saya mengalihkan tema pembicaraan. Kyai Sepuh adalah ayahanda Kyai Guru.
"Betul Ustadz, saya sering diminta untuk memperbaiki bagian-bagian bangunan Pesantren yang mengalami kerusakan. Sudah sejak Almarhum Kyai Sepuh masih ada dulu sampai sekarang… Saya ini tukang kayu, Ustadz…"
Saya manggut-manggut, sambil pikiran melayang ke Kyai Sepuh, hingga mendorong saya untuk bertanya lebih jauh:
"Oya, apa pengalaman Antum yang paling berkesan bersama Kyai Sepuh…?"
"Labbaik Ustadz… Dulu pertama kali saya dipanggil oleh Kyai Sepuh, saya ditanya apakah pernah sekolah? Lalu saya jawab: 'Pernah Kyai, tetapi hanya sampai kelas 2 SD…' Kemudian saya ditawari nyantri oleh Kyai. Ya saya senang sekali…"
"Jadi sejak itu Ustadz Mulyawan nyantri ke Kyai Sepuh…?"
"Labbaik Ustadz…"
"Apa salah satu wejangan Kyai Sepuh yang masih Antum ingat…?"
"Diantaranya tentang 'Islam Rahmatan Lil'aalamiin', Ustadz…"
"Waah… Menarik ini… Coba, tolong ceritakan, saya ingin sekali mendengar…" pinta saya. Dalam hati memang ingin ikut mencicipi berguru ke Kyai Sepuh melalui Ustadz Mulyawan…
"Labbaik Ustadz… Kyai Sepuh bilang ke saya: 'Yang dimaksud Islam Rahmatan Lil'aalamiin itu begini, Mul… Islam itu seperti MISUSE…"
Ha? Spontan saya 'interupsi':
"MISUSE…? Apa itu MISUSE…?"
Ustadz Mulyawan tertawa terkekeh:
"Pertanyaan panjenengan itu persis dengan yang saya tanyakan kepada Kyai Sepuh dulu, Ustadz…"
Gantian saya yang terkekeh…
Ustadz Mulyawan melanjutkan ceritanya:
"Kyai Sepuh menjelaskan: 'Mul… Islam itu seperti MISUSE, artinya (MI)numan (SU)su (SE)hat… Cocok untuk anak-anak, remaja maupun orang-orang tua… Menyehatkan bagi orang Islam maupun orang kafir, karena dibutuhkan oleh semua orang di segala usia… Itulah Islam Rahmatan Lil'aalamiin… Syariat Islam itu bukan hanya untuk kepentingan kaum Muslimin saja, tetapi demi kebaikan seluruh umat manusia…"
Subhaanallaah… Saya terpana… Sementara Ustadz Mulyawan masih terus bercerita:
"Kyai Sepuh menambahkan juga: 'Jadi, Mul… Kalau ada orang menolak Syariat Islam, maka dia itu ibarat menolak MInuman SUsu SEhat… Pasti ada yang 'tidak beres' dalam dirinya…"
Begitulah, Ustadz jebolan kelas 2 SD menguraikannya dengan kata-kata sederhana, tetapi begitu 'dahsyat' di telinga dan relung hati saya…!
Tak terasa, waktu sudah hampir menjelang Maghrib. Ustadz Mulyawan berpamitan. Saat bersalaman dia mencium tangan saya. Saya mau balas mencium tangannya, tetapi dengan sigap ia menariknya… OK, soal 'cium tangan' saya 'kecolongan'… Tetapi dengan tulus saya masih sempat mengatakan kepadanya:
"Ustadz Mulyawan, alhamdulillah, sore ini Allah telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berguru kepada tamu saya… Jazaakumullaahu khairan atas ilmu 'MISUSE'nya…" [k@]
-----------------
<kamil@bdullah>
Sumber:
https://www.facebook.com/kamil.abdullah.3/posts/4952473747507
Oleh: Kyai Kamil Abdullah
13 Desember 2014
Suatu kali saya kedatangan tamu. Sang tamu sudah berusia paruh baya. Berperawakan kurus, bertubuh pendek, kulit coklat legam, dan di wajahnya tampak jelas garis-garis pertanda kerasnya ujian hidup yang tak henti mendera.
Mulyawan namanya. Berpenampilan sangat bersahaja. Dalam hati, saya merasa bahwa orang ini wajib mendapat penghormatan karena ia memiliki sesuatu yang amat berharga: kerendahan hati dan ketulusan jiwa…
"Saya ini orang bodoh, Ustadz… Hanya putus sekolah kelas 2 Sekolah Dasar…" katanya dengan nada datar.
"Di awal-awal mengikuti Kajian Islam panjenengan, saya ini tidak mengerti apa-apa tentang demokrasi, sekularisme, kapitalisme, dan istilah-istilah asing lainnya…"
Ia terdiam. Ada yang tersekat di tenggorokannya…
"Saya sangat berterima kasih telah diberi kesempatan bergabung dalam forum Kajian Islam, tetapi…"
Lagi-lagi kalimatnya terpotong. Perkataannya terganjal.
Usut punya usut, ternyata inti kedatangannya adalah untuk menyampaikan curahan hatinya:
"Setiap kali saya mengikuti Kajian Islam yang Ustadz bina, saya selalu merasa 'tidak pantas' duduk diantara para Asatidz dan para Kyai di sana…"
Mendengar hal itu saya pun segera menimpalinya:
"Ustadz Mulyawan…"
(Saya memanggilnya Ustadz sebagai penghormatan saya kepadanya).
"Panjenengan tidak usah merasa 'rendah diri' duduk bersama para Asatidz dan Kyai… Karena kehadiran panjenengan di forum itu memang dikehendaki oleh Kyai Guru, orang yang paling berpengaruh di sini…"
Ia kelihatan kaget sebentar, tapi raut mukanya segera berbinar:
"Jadi ini atas perintah Kyai Guru? Alhamdulillah, saya lega sekarang, Ustadz…"
Saya tersenyum mendengar penuturannya yang lugu dan apa adanya…
"Oya, saya dengar Antum sering berada di Pesantren Kyai Sepuh, ya…?" tanya saya mengalihkan tema pembicaraan. Kyai Sepuh adalah ayahanda Kyai Guru.
"Betul Ustadz, saya sering diminta untuk memperbaiki bagian-bagian bangunan Pesantren yang mengalami kerusakan. Sudah sejak Almarhum Kyai Sepuh masih ada dulu sampai sekarang… Saya ini tukang kayu, Ustadz…"
Saya manggut-manggut, sambil pikiran melayang ke Kyai Sepuh, hingga mendorong saya untuk bertanya lebih jauh:
"Oya, apa pengalaman Antum yang paling berkesan bersama Kyai Sepuh…?"
"Labbaik Ustadz… Dulu pertama kali saya dipanggil oleh Kyai Sepuh, saya ditanya apakah pernah sekolah? Lalu saya jawab: 'Pernah Kyai, tetapi hanya sampai kelas 2 SD…' Kemudian saya ditawari nyantri oleh Kyai. Ya saya senang sekali…"
"Jadi sejak itu Ustadz Mulyawan nyantri ke Kyai Sepuh…?"
"Labbaik Ustadz…"
"Apa salah satu wejangan Kyai Sepuh yang masih Antum ingat…?"
"Diantaranya tentang 'Islam Rahmatan Lil'aalamiin', Ustadz…"
"Waah… Menarik ini… Coba, tolong ceritakan, saya ingin sekali mendengar…" pinta saya. Dalam hati memang ingin ikut mencicipi berguru ke Kyai Sepuh melalui Ustadz Mulyawan…
"Labbaik Ustadz… Kyai Sepuh bilang ke saya: 'Yang dimaksud Islam Rahmatan Lil'aalamiin itu begini, Mul… Islam itu seperti MISUSE…"
Ha? Spontan saya 'interupsi':
"MISUSE…? Apa itu MISUSE…?"
Ustadz Mulyawan tertawa terkekeh:
"Pertanyaan panjenengan itu persis dengan yang saya tanyakan kepada Kyai Sepuh dulu, Ustadz…"
Gantian saya yang terkekeh…
Ustadz Mulyawan melanjutkan ceritanya:
"Kyai Sepuh menjelaskan: 'Mul… Islam itu seperti MISUSE, artinya (MI)numan (SU)su (SE)hat… Cocok untuk anak-anak, remaja maupun orang-orang tua… Menyehatkan bagi orang Islam maupun orang kafir, karena dibutuhkan oleh semua orang di segala usia… Itulah Islam Rahmatan Lil'aalamiin… Syariat Islam itu bukan hanya untuk kepentingan kaum Muslimin saja, tetapi demi kebaikan seluruh umat manusia…"
Subhaanallaah… Saya terpana… Sementara Ustadz Mulyawan masih terus bercerita:
"Kyai Sepuh menambahkan juga: 'Jadi, Mul… Kalau ada orang menolak Syariat Islam, maka dia itu ibarat menolak MInuman SUsu SEhat… Pasti ada yang 'tidak beres' dalam dirinya…"
Begitulah, Ustadz jebolan kelas 2 SD menguraikannya dengan kata-kata sederhana, tetapi begitu 'dahsyat' di telinga dan relung hati saya…!
Tak terasa, waktu sudah hampir menjelang Maghrib. Ustadz Mulyawan berpamitan. Saat bersalaman dia mencium tangan saya. Saya mau balas mencium tangannya, tetapi dengan sigap ia menariknya… OK, soal 'cium tangan' saya 'kecolongan'… Tetapi dengan tulus saya masih sempat mengatakan kepadanya:
"Ustadz Mulyawan, alhamdulillah, sore ini Allah telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berguru kepada tamu saya… Jazaakumullaahu khairan atas ilmu 'MISUSE'nya…" [k@]
-----------------
<kamil@bdullah>
Sumber:
https://www.facebook.com/kamil.abdullah.3/posts/4952473747507
Subscribe to:
Posts (Atom)